Blog ini adalah blog baru yang dibuat dengan harapan dapat menjadi wadah untuk menuliskan hal-hal terkait ilmu-ilmu. Menurut KBBI edisi VI (https://kbbi.kemdikbud.go.id), ilmu adalah "pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu". Jika ditinjau dari epistemologi/filsafat ilmu, 'ilmu' dan 'pengetahuan' adalah dua hal yang berbeda. Tetapi, tulisan ini tidak akan membahas perihal itu. Mungkin akan dibahas dalam kesempatan lain.
Sebelumnya saya sudah pernah membuat blog dengan segala kenaifannya, yaitu https://aswins.blogspot.com pada tahun 2006 dan https://petualang-bakso.blogspot.com/ pada tahun 2015. Syukurnya kedua blog cupu itu masih eksis di belantara internt. Semoga akan ada energi dan waktu untuk menulisa denga produktk mengisi jejak digital saya di internet pada kedua blog itu.
Dorongan untuk membuat blog baru ini dilatarbelakangi oleh tugas mata kuliah Bahasa Indonesia di Semester Gasal 2025-2026 ARO Gapopin, yang diampu oleh Ibu Murni Marlina Simarmata S.S.,M.Pd. Mata kuliah tersebut adalah salah satu mata kuliah paket, yang diambil dalam semester satu program kelas karyawan ARO Gapopin. Ya, saat ini saya sedang menempung program D3 Optometri di Akademi Refraksi dan Optisi Gapopin. Gapopin sendiri kepanjangannya adalah Gabungan Pengusaha Optik Indonesia. Di sekitar Jabodetabek, ARO Gapopin adalah salah satu dari tiga institusi pendidikan tinggi yang menyediakan program pendidikan optometri. Dua ARO lainnya adalah ARO Leprindo di Ciputat, Tangsel dan ARO Kartika di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Sebelum 'optometri', istilah yang dipakai untuk bidang yang terkait perkacamataan adalah 'refraksi optisi'. Namun, pasca terbitnya surat keputusan menteri kesehatan No.HK.01.07/MENKES/1075/2024 Tentang Standar Kompetensi Optometris, maka istilah 'optometri' secara formal telah menggantikan 'refraksi optisi', di mana pelaku atau praktisinya disebut dengan 'optometris', yang sebelumnya adalah 'refreksionis optisien'. Mengutip ketetapan menteri kesehatan tertanggal 11 Juni 2024 tersebut:
Lalu, mengapa saya memutuskan menempuh pendidikan jenjang diploma optometri? Jawabannya ada pada judul tulisan ini. Pertanyaannya kemudian, apa alasannya? Alasannya sungguh praktis, yaitu karena tuntutan pekerjaan. Saya bekerja sebagai staf pengajar di Prodi Sarjana Terapan Optomeri di Universitas Kriste Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta. Saya pikir saya perlu memiliki kredensial yang mendukung dan sesuai dengan apa yang sedang saya kerjakan. Pilihannya adalah menempuh pendidikan formal optometri. Di Indonesia saat ini, selain ARO yang menyediakan pendidikan D3, ada juga yang menyediakan pendidikan D4, yang selevel dengan jenjang sarjana, yaitu UKRIDA, tempat saya bekerja! Kenapa saya malah mengambil jalur D3 ketimbang D4, apalagi penyedia D4 adalah 'rumah sendiri'? Jawaban yang bisa saya berikan adalah untuk menghindari "conflict of interest". Selain itu, rasanya agak merasa aneh, janggal, canggung dan semacamnya, jika saya sebagai pengajar sekaligus sebagai mahasiswa?! Maka, pilihan untuk mengambil jalur pendidikan optometri D3 adalah jalan yang lebih masuk akal untuk saat ini dan atas seijin pimpinan saya.
Selain ke ARO Gapopin, saya juga mendaftar ke STIKes Bhakti Husada Bandung untuk program D3 Optometri. Di STIKes Bhakti Husada, status saya juga diterima, namun saya memutuskan mendaftar ulang ke ARO Gapopin berdasarkan pertimbangan jarak yang terlalu jauh dan fleksibilitas program kelas karyawannya. Penyelenggaraan kuliahnya adalah berbasis daring kelas jarak jauh. Rupanya peserta progrma kelas karyawan memang dari daerah-daerah yang jauh, mulai dari sisi Barat Indonesia, Aceh hingga sisi Timur, Nusa Tenggara Barat. Hal itu saya ketahui dari perkenalan peserta kuliah di pertemuan pertama mata kuliah Bahasa Indonesia yang diampu oleh Ibu Murni Marlina Simarmata S.S.,M.Pd. Selain soal fleksibiltas waktu, biaya kuliah juga relatif terjangkau dan bisa dibayarkan bertahap. Faktor fleksibitas waktu dan biaya yang relatif terjangkau memantapkan pilihan menempuh studi D3 Optometri di ARO Gapopin.
Langkah saya menempuh pendidikan jenjang D3, cukup membuat beberapa teman saya mengerenyitkan dahi. Biasanya orang yang sudah menempuh pendidikan S2 dan memiliki gelar magister, akan melanjutkan ke jenjang S3 untuk mendapatkan gelar doktor, namun saya malah mengambil jalur yang agak janggal. Jenjang pendidikan sarjana saya adalah di Departemen Fisika Insitut Teknologi Bandung dengan gelar Sarjana Sains (S.Si.), sedangkan jenjang pendidikan pascasarjana saya adalah di Program Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dengan gelar Magister Filsafat (M.Fil.). Berdasarkan informasi yang saya dengar dari kegiatan PKKMB, gelar yang diperoleh dari Program D3 Optometri adalah A.Md.Kes, Ahli Madya Kesehatan. Perihal titel atau gelar ini tidak terlalu penting bagi saya untuk menghiasi nama, yang terpenting bagi saya adalah, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya adalah untuk bisa memiliki kredensial atas kiprah saya di Prodi Sarjana Terapan Optometri UKRIDA.
Sebelumnya saya hendak menempuh program S2 Fisika, demi memenuhi azas linearitas keilmuan, dan memang masih nyambung juga dengan dunia optometri, karena basis dari ilmu optometri adalah tentang sifat dan karakteristik cahaya yang menjadi salah satu pokok kajian ilmu fisika. Saya pernah mengampu mata kuliah "Geometri dan Optika Fisis", yang pada dasarnya itu adalah ilmu fisika. Instrumen dan alat-alat yang digunakan dalam dunia optometri dikembangkan adalah berdasarkan pengetahuan fisika tentang karakteristik cahaya. Berdasarkan hal itu maka tadinya saya pikir kredensial saya bisa dibangun lewat program pascasarjana ilmu fisika. Naman, realitanya, jalur itu banyak kendalanya karena sekolah S2 Fisika butuh full-time, sehingga kurang cocok dengan tuntutan tempat bekerja. Jadi, untuk saat ini, pilihan itu saya simpan dalam laci dulu, meskipun keinginan ke arah sana masih ada. Pikir saya, dengan studi lanjut S2 Fisika, maka saya akan bisa berkontribusi dalam keilmuan optometri dengan melakukan penelitian yang berdampak. Ada agenda dan arah penelitian di benak saya, berdasarkan pemebacaan dan penelusuran saya atas beberapa literatur, yaitu tentang pemodelan dinamis daya akomodasi lensa mata dan ini terkait juga dengan kejadian presbiopia. Tetapi, sesungguhnya meneliti itu tidak harus ditentukan oleh jenjang pendidikan. Dorongannya adalah rasa ingn tahu. Orang seperti Isaac Newton misalnya, ia bisa menyingkap Hukum Gravitasi bukan karena sekolah dulu, tetapi karena dipandu oleh rasa ingin tahu dan keterpesonaan akan misteri alam semesta.
Baru seminggu berinteraksi di kelas, pada akhirnya saya menyadari bahwa dengan menempuh studi formal jenjang D3 Optometri di ARO Gapopin, maka akan ada peluang juga untuk bisa memulai bisnis dalam dunia optik. Teman-teman sekelas banyak yang sudah memulai usaha optik dan alasan mereka ambil kuliah formal jenjang D3 Optometri adalah soal 'legalitas'. Legalitas di sini terkait dengan nomenklatur profesi optometris yang sudah mulai ditata oleh pemerintah. Seperti halnya apotek, ijin beroperasinya diberikan jika ada apoteker yang teregister. Demikian juga halnya optik, harus ada optometris yang teregister jika ijin operasinya diterbitkan. Jadi, tidak salah juga pilihan saya untuk menempuh studi D3 Optometri di ARO Gapopin. Selain untuk kepentingan pekerjaan, sekaligus meretas jalan untuk memiliki profesi baru sebagai seorang optometris dan siapa tahu nantinya bisa memiliki bisnis optik.
Sebelumnya saya sudah pernah membuat blog dengan segala kenaifannya, yaitu https://aswins.blogspot.com pada tahun 2006 dan https://petualang-bakso.blogspot.com/ pada tahun 2015. Syukurnya kedua blog cupu itu masih eksis di belantara internt. Semoga akan ada energi dan waktu untuk menulisa denga produktk mengisi jejak digital saya di internet pada kedua blog itu.
Dorongan untuk membuat blog baru ini dilatarbelakangi oleh tugas mata kuliah Bahasa Indonesia di Semester Gasal 2025-2026 ARO Gapopin, yang diampu oleh Ibu Murni Marlina Simarmata S.S.,M.Pd. Mata kuliah tersebut adalah salah satu mata kuliah paket, yang diambil dalam semester satu program kelas karyawan ARO Gapopin. Ya, saat ini saya sedang menempung program D3 Optometri di Akademi Refraksi dan Optisi Gapopin. Gapopin sendiri kepanjangannya adalah Gabungan Pengusaha Optik Indonesia. Di sekitar Jabodetabek, ARO Gapopin adalah salah satu dari tiga institusi pendidikan tinggi yang menyediakan program pendidikan optometri. Dua ARO lainnya adalah ARO Leprindo di Ciputat, Tangsel dan ARO Kartika di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Sebelum 'optometri', istilah yang dipakai untuk bidang yang terkait perkacamataan adalah 'refraksi optisi'. Namun, pasca terbitnya surat keputusan menteri kesehatan No.HK.01.07/MENKES/1075/2024 Tentang Standar Kompetensi Optometris, maka istilah 'optometri' secara formal telah menggantikan 'refraksi optisi', di mana pelaku atau praktisinya disebut dengan 'optometris', yang sebelumnya adalah 'refreksionis optisien'. Mengutip ketetapan menteri kesehatan tertanggal 11 Juni 2024 tersebut:
Profesi optometris, meskipun terdengar baru, sesungguhnya tidaklah baru-baru amat, karena ia hanyalah perubahan nama dari istilah sebelumnya, yaitu refraksi optisien. Istilah optometri dan optometris lebih dikenal di dunia, misalnya seperti yang didefinisikan oleh World Council of Optometry (WCO) di sini: https://worldcouncilofoptometry.info/about-us/. Hal itu yang barangkali melatarbelakangi terbitnya ketetapan menteri kesehatan terkait standar kompetensi optometris."Seiring dengan pentingnya penglihatan dalam perkembangan dan kualitas hidup, profesional di bidang kesehatan mata juga mengalami perubahan dan perkembangan. Salah satunya diperlukannya perubahan yang signifikan refraksionis optisien menjadi optometris. Perubahan ini dalam rangka mendorong terwujudnya pelayanan kesehatan mata yang lebih komprehensif dan berkualitas. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan demografi, kebutuhan akan pemeriksaan dan perawatan mata yang lebih menyeluruh menjadi semakin penting. Optometris mampu memberikan layanan yang lebih luas dan mendalam, sehingga dapat berkontribusi dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan gangguan penglihatan yang lebih efektif."
Lalu, mengapa saya memutuskan menempuh pendidikan jenjang diploma optometri? Jawabannya ada pada judul tulisan ini. Pertanyaannya kemudian, apa alasannya? Alasannya sungguh praktis, yaitu karena tuntutan pekerjaan. Saya bekerja sebagai staf pengajar di Prodi Sarjana Terapan Optomeri di Universitas Kriste Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta. Saya pikir saya perlu memiliki kredensial yang mendukung dan sesuai dengan apa yang sedang saya kerjakan. Pilihannya adalah menempuh pendidikan formal optometri. Di Indonesia saat ini, selain ARO yang menyediakan pendidikan D3, ada juga yang menyediakan pendidikan D4, yang selevel dengan jenjang sarjana, yaitu UKRIDA, tempat saya bekerja! Kenapa saya malah mengambil jalur D3 ketimbang D4, apalagi penyedia D4 adalah 'rumah sendiri'? Jawaban yang bisa saya berikan adalah untuk menghindari "conflict of interest". Selain itu, rasanya agak merasa aneh, janggal, canggung dan semacamnya, jika saya sebagai pengajar sekaligus sebagai mahasiswa?! Maka, pilihan untuk mengambil jalur pendidikan optometri D3 adalah jalan yang lebih masuk akal untuk saat ini dan atas seijin pimpinan saya.
Selain ke ARO Gapopin, saya juga mendaftar ke STIKes Bhakti Husada Bandung untuk program D3 Optometri. Di STIKes Bhakti Husada, status saya juga diterima, namun saya memutuskan mendaftar ulang ke ARO Gapopin berdasarkan pertimbangan jarak yang terlalu jauh dan fleksibilitas program kelas karyawannya. Penyelenggaraan kuliahnya adalah berbasis daring kelas jarak jauh. Rupanya peserta progrma kelas karyawan memang dari daerah-daerah yang jauh, mulai dari sisi Barat Indonesia, Aceh hingga sisi Timur, Nusa Tenggara Barat. Hal itu saya ketahui dari perkenalan peserta kuliah di pertemuan pertama mata kuliah Bahasa Indonesia yang diampu oleh Ibu Murni Marlina Simarmata S.S.,M.Pd. Selain soal fleksibiltas waktu, biaya kuliah juga relatif terjangkau dan bisa dibayarkan bertahap. Faktor fleksibitas waktu dan biaya yang relatif terjangkau memantapkan pilihan menempuh studi D3 Optometri di ARO Gapopin.
Langkah saya menempuh pendidikan jenjang D3, cukup membuat beberapa teman saya mengerenyitkan dahi. Biasanya orang yang sudah menempuh pendidikan S2 dan memiliki gelar magister, akan melanjutkan ke jenjang S3 untuk mendapatkan gelar doktor, namun saya malah mengambil jalur yang agak janggal. Jenjang pendidikan sarjana saya adalah di Departemen Fisika Insitut Teknologi Bandung dengan gelar Sarjana Sains (S.Si.), sedangkan jenjang pendidikan pascasarjana saya adalah di Program Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dengan gelar Magister Filsafat (M.Fil.). Berdasarkan informasi yang saya dengar dari kegiatan PKKMB, gelar yang diperoleh dari Program D3 Optometri adalah A.Md.Kes, Ahli Madya Kesehatan. Perihal titel atau gelar ini tidak terlalu penting bagi saya untuk menghiasi nama, yang terpenting bagi saya adalah, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya adalah untuk bisa memiliki kredensial atas kiprah saya di Prodi Sarjana Terapan Optometri UKRIDA.
Sebelumnya saya hendak menempuh program S2 Fisika, demi memenuhi azas linearitas keilmuan, dan memang masih nyambung juga dengan dunia optometri, karena basis dari ilmu optometri adalah tentang sifat dan karakteristik cahaya yang menjadi salah satu pokok kajian ilmu fisika. Saya pernah mengampu mata kuliah "Geometri dan Optika Fisis", yang pada dasarnya itu adalah ilmu fisika. Instrumen dan alat-alat yang digunakan dalam dunia optometri dikembangkan adalah berdasarkan pengetahuan fisika tentang karakteristik cahaya. Berdasarkan hal itu maka tadinya saya pikir kredensial saya bisa dibangun lewat program pascasarjana ilmu fisika. Naman, realitanya, jalur itu banyak kendalanya karena sekolah S2 Fisika butuh full-time, sehingga kurang cocok dengan tuntutan tempat bekerja. Jadi, untuk saat ini, pilihan itu saya simpan dalam laci dulu, meskipun keinginan ke arah sana masih ada. Pikir saya, dengan studi lanjut S2 Fisika, maka saya akan bisa berkontribusi dalam keilmuan optometri dengan melakukan penelitian yang berdampak. Ada agenda dan arah penelitian di benak saya, berdasarkan pemebacaan dan penelusuran saya atas beberapa literatur, yaitu tentang pemodelan dinamis daya akomodasi lensa mata dan ini terkait juga dengan kejadian presbiopia. Tetapi, sesungguhnya meneliti itu tidak harus ditentukan oleh jenjang pendidikan. Dorongannya adalah rasa ingn tahu. Orang seperti Isaac Newton misalnya, ia bisa menyingkap Hukum Gravitasi bukan karena sekolah dulu, tetapi karena dipandu oleh rasa ingin tahu dan keterpesonaan akan misteri alam semesta.
Baru seminggu berinteraksi di kelas, pada akhirnya saya menyadari bahwa dengan menempuh studi formal jenjang D3 Optometri di ARO Gapopin, maka akan ada peluang juga untuk bisa memulai bisnis dalam dunia optik. Teman-teman sekelas banyak yang sudah memulai usaha optik dan alasan mereka ambil kuliah formal jenjang D3 Optometri adalah soal 'legalitas'. Legalitas di sini terkait dengan nomenklatur profesi optometris yang sudah mulai ditata oleh pemerintah. Seperti halnya apotek, ijin beroperasinya diberikan jika ada apoteker yang teregister. Demikian juga halnya optik, harus ada optometris yang teregister jika ijin operasinya diterbitkan. Jadi, tidak salah juga pilihan saya untuk menempuh studi D3 Optometri di ARO Gapopin. Selain untuk kepentingan pekerjaan, sekaligus meretas jalan untuk memiliki profesi baru sebagai seorang optometris dan siapa tahu nantinya bisa memiliki bisnis optik.
Komentar
Posting Komentar