Mata manusia adalah salah satu karya biologis ciptaan TUHAN yang kompleks. Di dalam bola mata, tepat di belakang iris yang memberi warna pada mata, terdapat lensa kristalin—sebuah struktur bening berbentuk cembung yang bertugas memfokuskan cahaya agar jatuh tepat di retina. Untuk melihat objek jauh, lensa menjadi pipih; untuk melihat dekat, ia menggembung. Kemampuan berubah bentuk disebut daya akomodasi mata.
sumber gambarKemampuan akomodasi ini diatur oleh otot siliaris, yang secara otomatis mengencang atau mengendur menyesuaikan jarak objek yang dilihat. Ketika seseorang membaca buku atau melihat layar ponsel, otot siliaris akan berkontraksi, membuat lensa menggembung, supaya cahaya dari objek dekat tetap bisa difokuskan dengan tajam. Namun, seiring waktu, seperti sebuah pegas, sistem ini mulai kehilangan kelenturannya. Lensa menjadi kaku, otot siliaris mulai bekerja lebih keras, dan kemampuan mata untuk mengubah fokus pun menurun. Akbatnya, mata tak lagi bisa dengan mudah menyesuaikan jarak pandang. Itulah presbiopia.
Prosesnya bahkan bisa dimulai sejak usia 20-an, tetapi gejalanya biasanya muncul di kisaran usia 40 tahun ke atas. Pada usia terebut mata mulai kelelahan saat terus-menerus harus berakomodasi untuk melihat dekat, misalnya saat membaca, menjahit, atau bekerja di depan layar. Tidak hanya lensa yang berubah, otot siliaris pun mengalami degenerasi, meski tidak secepat lensa.
Peneliti mencoba menelusuri apakah ada cara untuk memperlambat presbiopia, mulai dari terapi nutrisi, latihan otot mata, hingga penggunaan obat tetes mata eksperimental. Namun, semua cara itu hanya bersifat suportif saja, bukan kuratif. Tidak ada cara yang terbukti secara klinis dapat menghentikan atau membalikkan pengerasan lensa mata. Tetapi ketidakmampuan memperlambatnya bukan berarti tak ada harapan. Ilmu pengetahuan telah berhasil menciptakan berbagai inovasi untuk membantu manusia tetap dapat membaca, bekerja, dan beraktivitas secara produktif meski mengalami presbiopia. Solusi yang sudah tersedia adalah dari lensa baca sederhana hingga operasi canggih berbasis laser.
Inovasi di bidang optometri dan teknologi visual terus berkembang, menapaki batas di antara biologi, komputer, dan bahkan kecerdasan buatan. Para peneliti kini mengembangkan lensa pintar yang mampu menyesuaikan fokus secara otomatis, menyerupai kemampuan alami mata manusia ketika muda. Ada pula eksperimen dengan lensa intraokular yang bisa dikendalikan secara elektrik oleh sinyal dari otot mata. Dalam dunia simulasi, model komputasi akomodasi mata menjadi alat bantu penting untuk mendesain solusi korektif yang lebih presisi dan bersifat individual. Dengan pendekatan ini, dokter mata dan optometris bisa memahami pola presbiopia seseorang secara lebih detail.
Dalam arah lain, pendekatan edukasi berbasis komunitas juga mulai digalakkan: program skrining massal, distribusi kacamata baca murah, hingga pelatihan tenaga lokal untuk mendeteksi gangguan refraksi secara cepat. Di sinilah peran masyarakat sipil, akademisi, dan media menjadi penting, yaitu dengan mengubah kesadaran visual menjadi gerakan bersama. Sebab persoalan gangguan penglihatan adalah juga persoalah kesehatan masyarakat, yang perlu mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan.
(diolah dari berbagai sumber)Dalam hal ini Prodi Optometri UKRIDA sudah sering melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan penglihatan dan pemeriksaan mata sebagai ikhtiar Tri Dharma Perguruan Tinggi di beberapa daerah. Dengan dukungan dari mitra-mitra dermawan yang menyediakan kacamata baca, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) atau kegiatan pelayanan komunitas, Prodi Optometri UKRIDA memberikan kacamata-kacamata baca bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan. Sebagai lembaga pendidikan tinggi kristiani, dengan moto LEAD to Impact, UKRIDA mengejawantahkan nilai-nilai kristiani untuk melayani masyarakat, serta mendukung pembangunan dunia yang berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) lewat aksi-aksi penatalayanan kesehatan mata.


Komentar
Posting Komentar